Kamis, 25 Juli 2019

Ekonomi Global Melemah, OJK: RI Masih Stabil

Otoritas Layanan Keuangan (OJK) pastikan kestabilan bidang layanan keuangan selama Semester I-2019 masih terbangun, meskipun ekonomi dunia masih ditemui pelemahan. Kestabilan itu terpantau dari mulai perbankan, industri keuangan non bank, sampai pasar modal akan tumbuh lebih baik tahun ini.



Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menjelaskan pelemahan ekonomi dunia kelihatan dari Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur serta perkembangan export beberapa negara ekonomi penting dunia yang terpantau masih melambat.

"Searah dengan perubahan global itu, pasar keuangan domestik mencatat kapasitas yang positif di semester I-2019. IHSG ditutup pada level 6.358,63 bertambah sebesar 2,65% di paruh pertama 2019," katanya dalam paparan di Kompleks Bank Indonesia.

OJK mencatat terjadi beli bersih atau net buy investor nonresiden sebesar Rp 68,80 triliun di pasar modal.

Wimboh menyebutkan penguatan turut berlangsung di pasar Surat Bernilai Negara (SBN), tercermin dari turunnya rata-rata yield SBN sebesar 57,64 bps, sesaat pada Kuartal II-2019 turun 19,67 bps qtq (kuartal ke kuartal), serta Juni 2019 turun 44,69 bps mtm (bulan ke bulan).

"Investor nonresiden yang mencatat net buy sebesar Rp 95,50 triliun, Kuartal II-2019 Rp21,63 triliun qtq, Juni 2019 Rp 39,19 triliun mtm," tuturnya.

Penghimpunan Dana Faksi Ke-3 (DPK) perbankan juga bertambah sebesar 7,42% yoy (tahun ke tahun). Menurut Wimbih itu paling tinggi dalam delapan bulan paling akhir, karena bertambahnya perkembangan deposito serta giro perbankan.

Pada periode yang sama, asuransi jiwa serta asuransi umum atau reasuransi ikut tertera mengumpulkan premi, semasing sebesar Rp 85,65 triliun serta Rp 50,93 triliun.

Di pasar modal, lanjut Wimboh, korporasi sukses mengumpulkan dana sebesar Rp 96,25 triliun, dengan jumlahnya emiten baru sekitar 29, dengan 18 dalam gagasan penawaran umum di pipeline.

"Bidang layanan keuangan melanjutkan andilnya dalam memberi dukungan perkembangan ekonomi. Credit perbankan tumbuh konstan pada level 9,92% yoy, dengan perkembangan paling tinggi pada bidang listrik, air, serta gas, konstruksi, dan pertambangan," tuturnya.

Selanjutnya, profile efek instansi layanan keuangan terbangun pada level yang teratasi. Perbankan dipandang dapat jaga efek credit konstan pada level yang rendah, tercermin dari rasio Non-Performing Loan (NPL) gross sebesar 2,50%, paling rendah pada tempat akhir Semester-I dalam lima tahun paling akhir.

Wimboh memberikan tambahan, rasio Non-Performing Financing (NPF) Perusahaan Pembiayaan konstan pada level 2,82%. Perbankan dapat jaga efek pasarnya ada pada level yang rendah, tercermin dari rasio Tempat Devisa Neto (PDN) sebesar 2,2%, konstan pada level dibawah ujung batas ketetapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar